Kembali ke Daftar Artikel
30 June 2026

Perpustakaan KUCICA Gelar Pelatihan Literasi Digital Anti Hoaks, Wujudkan Masyarakat Cerdas di Era AI

Cover Artikel
Donorojo – Perpustakaan KUCICA (Aku Cinta Membaca) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Literasi Digital Anti Hoaks sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026, bertempat di Aula Perpustakaan KUCICA, dan diikuti oleh masyarakat, kader literasi, serta berbagai unsur warga desa.

Acara diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Petinggi Desa, yang menekankan pentingnya meningkatkan budaya literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Dalam sambutannya, beliau mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media digital serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.

Selanjutnya, Bunda Literasi Kecamatan Donorojo memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar terus menumbuhkan budaya membaca dan belajar sepanjang hayat. Menurut beliau, literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami, menyaring, dan memanfaatkan informasi secara cerdas dalam kehidupan sehari-hari.

Materi utama disampaikan oleh Ardhi Yudha Saputra, S.Kom, selaku Kepala Perpustakaan Aku Cinta Membaca (KUCICA). Dalam paparannya, narasumber menjelaskan pentingnya literasi digital sebagai bekal masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan di era internet dan media sosial.

Peserta diberikan pemahaman mengenai pengertian literasi digital, ciri-ciri berita hoaks, cara melakukan verifikasi informasi, serta etika dalam menggunakan media sosial. Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini mampu menghasilkan tulisan, gambar, suara, bahkan video yang tampak sangat nyata.

“Di era AI seperti sekarang, kita semakin sulit membedakan mana informasi yang benar dan mana yang merupakan hasil rekayasa. Foto, suara, bahkan video dapat dibuat menggunakan teknologi AI sehingga terlihat sangat meyakinkan. Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya percaya karena melihat atau mendengar sesuatu, tetapi harus selalu memeriksa sumber dan melakukan verifikasi fakta terlebih dahulu,” jelas Ardhi Yudha Saputra.

Selain penyampaian materi, peserta juga diajak berdiskusi mengenai berbagai contoh hoaks yang sering beredar melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, maupun platform digital lainnya. Melalui sesi ini, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai cara mengenali tanda-tanda informasi palsu dan langkah-langkah sederhana untuk melakukan cek fakta sebelum membagikan informasi kepada orang lain.

Pelatihan ini sejalan dengan berbagai program penguatan literasi digital yang terbukti mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali hoaks, memverifikasi informasi, dan menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Pendekatan edukatif dan praktik cek fakta menjadi salah satu metode yang efektif untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap disinformasi.

Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin kritis dalam menerima informasi, mampu memanfaatkan teknologi digital secara positif, serta menjadi agen literasi yang dapat membantu mencegah penyebaran hoaks di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab, foto bersama, serta ajakan kepada seluruh peserta untuk terus menerapkan slogan:

“Saring Sebelum Sharing, Cek Fakta Sebelum Percaya.”

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, Perpustakaan KUCICA (Aku Cinta Membaca) berharap dapat terus menjadi pusat edukasi dan literasi masyarakat, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang cerdas, kritis, dan bijak dalam menghadapi tantangan informasi di era digital dan kecerdasan buatan.
Bagikan artikel ini: