Tradisi Jembul Tulakan: Warisan Budaya Tak Benda Sedekah Bumi di Desa Tulakan di Akui Nasional ( Kemendikbud Ristek )
Jembul Tulakan merupakan tradisi budaya yang berasal dari Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Tradisi ini berupa arak-arakan jembul yang menjadi bagian dari upacara sedekah bumi yang diselenggarakan oleh pemerintah desa bersama masyarakat setempat.
Jembul Tulakan dilaksanakan secara rutin setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari Senin Pahing di bulan Apit menurut penanggalan Jawa, atau bertepatan dengan bulan Dzulqaidah dalam kalender Hijriyah. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, khususnya hasil bumi yang diperoleh selama setahun.
Latar Belakang Sejarah
Tradisi ini tidak lepas dari sejarah Kademangan Tulakan yang dipimpin oleh Ki Demang Barata. Sebagai ungkapan syukur, beliau mengadakan upacara sedekah bumi yang kemudian diwariskan hingga sekarang.
Selain itu, Jembul Tulakan juga berkaitan erat dengan kisah Ratu Kalinyamat. Tradisi ini menjadi simbol untuk mengenang laku tapa brata beliau dalam menuntut keadilan atas wafatnya suaminya, Sunan Hadiri, yang gugur akibat konflik dengan Arya Penangsang.
Sebelum pelaksanaan sedekah bumi, masyarakat terlebih dahulu mengadakan ritual manganan di punden yang diyakini sebagai bekas tempat pertapaan Ratu Kalinyamat. Ritual ini biasanya dilakukan pada hari Jumat Wage, sesuai dengan hari kedatangan sang ratu untuk bertapa.
Makna dan Simbol Jembul
Kata “sedekah bumi” berarti pemberian hasil bumi yang diwujudkan dalam berbagai makanan tradisional. Makanan tersebut disusun dalam wadah yang disebut ancak, kemudian dihiasi dengan iratan bambu tipis menyerupai rambut. Hiasan ini disebut “jembul”.
Jembul melambangkan ungkapan terkenal Ratu Kalinyamat:
“Ora pati-pati wudhar tapaningsun, yen durung keramas getihe lan keset jembule Arya Panangsang.”
Maknanya adalah tekad kuat untuk tidak menghentikan tapa sebelum mencapai tujuan, yang dalam konteks simbolik diwujudkan melalui bentuk jembul tersebut.
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua jenis jembul:
- Jembul Lanang (laki-laki): Berukuran besar dan dihiasi iratan bambu, berisi aneka makanan seperti jadah, tape ketan, dan apem.
- Jembul Wadon (perempuan): Berukuran lebih kecil dan berisi lauk-pauk.
Jumlah jembul disesuaikan dengan jumlah dukuh yang ada, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri sebagai representasi sejarah tokoh setempat.
Rangkaian Prosesi
Prosesi Jembul Tulakan diawali dengan pencucian kaki kepala desa menggunakan air kembang setaman. Ritual ini melambangkan penyucian diri serta harapan agar pemimpin desa selalu berlaku jujur, adil, dan bijaksana.
Selanjutnya dilakukan selamatan sebagai bentuk doa agar desa senantiasa diberi keselamatan dan hasil panen yang melimpah.
Puncak acara adalah prosesi mengitari jembul sebanyak tiga kali oleh kepala desa, penari tayub (tledek), dan perangkat desa. Prosesi ini menggambarkan kisah para nayoko projo yang menghadap Ratu Kalinyamat sebagai bentuk pengabdian dan penghormatan.
Acara kemudian ditutup dengan kegiatan “resikan”, yaitu kerja bakti membersihkan lokasi sebagai simbol mengusir segala hal buruk dari desa.
Nilai Budaya dan Sosial
Tradisi Jembul Tulakan memiliki berbagai nilai penting bagi masyarakat, antara lain:
- Ungkapan syukur atas hasil bumi dan rezeki.
- Pembelajaran kepemimpinan, terutama bagi kepala desa dalam mengayomi masyarakat.
- Sarana hiburan rakyat, melalui pertunjukan tayub dan kesenian lainnya.
- Penggerak ekonomi lokal, dengan hadirnya pedagang makanan dan suvenir.
- Pelestarian sejarah, khususnya kisah perjuangan Ratu Kalinyamat.
Potensi Wisata Budaya
Seiring perkembangan zaman, Jembul Tulakan tidak hanya menjadi tradisi lokal, tetapi juga memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya. Setiap pelaksanaannya mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara yang tertarik pada budaya Jawa.
Pemerintah Kabupaten Jepara melalui dinas pariwisata juga telah memasukkan tradisi ini dalam agenda wisata daerah. Hal ini memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, baik melalui penjualan makanan, jasa transportasi, maupun produk lokal lainnya.
Penutup
Jembul Tulakan adalah bukti nyata kekayaan budaya yang masih lestari di tengah masyarakat modern. Tradisi ini tidak hanya mengandung nilai spiritual dan historis, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pelestarian tradisi ini menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mengenal dan merasakan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.