Sedekah Bumi Penutup di Kamituwo Pejing Desa Tulakan: Tradisi Pelengkap yang Sakral sebagai Penutupnya Ritual Tolak Balak Pasopati
Sedekah bumi penutup di Kamituwo Pejing, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara merupakan bagian penting dari rangkaian tradisi tahunan masyarakat. Kegiatan ini menjadi penutup dari perayaan Jembul Tulakan yang lebih dahulu dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.
Tradisi ini lahir dari kisah yang berkembang di masyarakat secara turun-temurun. Diceritakan bahwa pada saat pelaksanaan sedekah bumi di Kademangan Tulakan, tokoh Dukuh Pejing yang dikenal sebagai Mbah Cabuk sedang dalam kondisi sakit sehingga tidak dapat menghadiri acara tersebut. Setelah sembuh, masyarakat Pejing memohon izin kepada Ki Demang Barata untuk melaksanakan sedekah bumi secara mandiri di wilayahnya.
Permohonan tersebut dikabulkan dengan beberapa syarat, yaitu pelaksanaan tidak boleh bersamaan dengan sedekah bumi Tulakan, masyarakat Pejing tetap harus menghormati dan menghadiri tradisi utama di Tulakan, serta dalam prosesi sedekah bumi di Pejing tidak diperbolehkan menggunakan jembul. Oleh karena itu, sedekah bumi di Pejing dilaksanakan satu minggu setelah Jembul Tulakan, tepatnya pada hari Senin Wage.
Berbeda dengan Jembul Tulakan yang identik dengan arak-arakan jembul, sedekah bumi di Kamituwo Pejing dilaksanakan secara lebih sederhana. Meskipun demikian, esensi tradisi tetap terjaga. Kegiatan ini diawali dengan selamatan dan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan dan hasil panen yang diperoleh masyarakat.
Warga kemudian membawa berbagai sajian berupa makanan tradisional dan hasil bumi sebagai simbol sedekah. Kebersamaan sangat terasa dalam momen ini, karena seluruh lapisan masyarakat turut berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan.
Sebagai bentuk hiburan sekaligus pelestarian budaya, sedekah bumi Pejing juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti tayub. Kesenian ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga memiliki makna sebagai bentuk penghormatan dalam tradisi masyarakat Jawa.
Sedekah bumi penutup di Kamituwo Pejing mengandung berbagai nilai luhur, di antaranya rasa syukur kepada Tuhan, semangat gotong royong, serta upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Tradisi ini juga memperkuat hubungan sosial antarwarga dan menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat desa.
Selain memiliki nilai budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Pada saat pelaksanaan, biasanya muncul aktivitas perdagangan seperti penjualan makanan dan kebutuhan lainnya yang membantu meningkatkan pendapatan warga.
Dengan segala nilai yang terkandung di dalamnya, sedekah bumi penutup di Kamituwo Pejing tidak hanya menjadi tradisi pelengkap, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Tulakan. Pelestarian tradisi ini menjadi tanggung jawab bersama agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.